Bisnis Haram Berkedok Permainan Telah Merajalela

Fenomena judi online di Indonesia bak serigala berbulu domba. Kecanggihan teknologi membuat bandar mampu menyulap bisnis haramnya menjadi tampak seperti permainan.

Dari muda hingga tua, semua dapat mengakses dengan mudah. Hingga tak sadar permainan itu siap mengeruk kantong para pemainnya.

qiu qiu online

Menurut pakar keamanan siber, Pratama D.Persadha, hal itu juga yang membuat judi online semakin banyak peminatnya. Judi online dikemas cantik, membuat penjudi seolah hanya sekadar menjalankan sebuah permainan. Mereka tak merasa melakukan tindakan yang melanggar hukum atau yang diharamkan.

““Bandar judi semakin berkembang, dia akan membuat suatu sistem yang bagus. Sistem yang bagus ini ketika di-share, kepada orang, dia merasa seperti orang main gim,” kata Pratama D Persadha kepada Liputan6.com.

Bahkan menurut Pratama, karena perkembangan teknologi, mental judi sudah mulai dibentuk sejak masa kanak-kanak. Mereka dicekoki permainan-permainan yang melibatkan taruhan.

Meski tidak menggunakan uang asli, namun hal tersebut, menurut Pratama, dapat membuat sang anak ketagihan hingga berlanjut ke perjudian yang sesungguhnya.

“Jadi mereka diajari untuk main judi dari kecil. Ketika teredukasi untuk bermain judi, akhirnya mereka terbiasa,” kata Pratama.

Di sisi lain menurut Pratama, perkembangan teknologi juga membuat penyebaran judi di Indonesia sulit dibendung.

“Dari indikator banyaknya iklan judi online di internet, menunjukan memang pengguna di Indonesia itu sangat banyak,” kata Pratama.

Padahal tahun 2017 setidaknya sudah 3.273 situs judi online dilaporkan ke Kementerian Komunikasi dan Informatika. Sebanyak 1.584 situs diantaranya sudah diblokir.

Kesulitan itu lantaran para bandar judi online sudah menyusun strategi dengan rapi. Mereka memanfaatkan celah hukum di Indonesia dengan membangun pusat kendali bisnisnya di negara yang melegalkan judi.

Sedangkan di Indonesia, para bandar hanya merekrut orang sebagai agen. Agen-agen itu yang nantinya melayani pemain-pemain di Indonesia.

Biasanya mereka terang-terangan mengiklankan bisnis judi onlinenya melalui internet. Banyak diantaranya juga membuka layanan personal chat. Secara rutin mereka juga memberitahukan nomor rekening yang biasanya digunakan untuk menerima transfer uang dari pemain.

Saat mereka tertangkap, bandar akan merekrut agen-agen baru. Begitu seterusnya. Sementara aparat penegak hukum tidak dapat menindak bandar-bandar judi online yang ada di negara-negara di mana judi dianggap legal. Hal ini membuat rantai bisnis judi online di Indonesia tidak bisa dipotong.

“Mereka (bandar) menggunakan hukum di luar negeri, servernya ada di sana, sementara kita tidak punya kekuatan untuk menjangkau mereka (bandar), itu jadi masalah,” kata pria yang pernah tergabung dalam Lembaga Sandi Negara itu.

‘Uang Setan Dimakan Iblis’

Judi online itu ibarat candu. D jadi saksi hidupnya. Sudah lima tahun pemuda itu terjerat judi online berbentuk permainan poker. Sudah sejak SMA ia memainkannya, awalnya hanya coba-coba.

“Lihat teman-teman selalu ada uang buat beli rokok segala macam, selalu ada, jadi penasaran dari mana duitnya,” kata D kepada Liputan6.com.

Ia pun kemudian mengunduh aplikasi judi online, menyetor KTP, nomor rekening, nomor ponsel, dan uang Rp 50 ribu. Setelah itu, judi poker online dapat dimainkan.

Tak butuh modal besar untuk berjudi poker online. Pemainnya juga bisa menjalankan permainan terlarang itu di ponsel, kapan saja, dan di mana saja. Kemudahan-kemudahan itupun sontak membuat D sulit lepas dari jerat candu judi poker online.

Namun, menurut D, yang membuatnya sulit insaf adalah rasa tidak pernah puas dan tidak pernah kapok.

Saat kalah ia penasaran, ketika menang ia pun ketagihan. Suatu ketika D rugi Rp 2 juta. Bukannya mundur, mahasiswa itu malah merasa tertantang. Ia rela utang ke sana ke mari demi bisa meneruskan permainan. “Saya merasa harus main lagi, buat mengembalikan modal saat kalah,” kata D.

Hal yang sama juga pernah dialami N. Untungnya, karyawan swasta itu kini sudah tobat. Menurut dia, tak ada untungnya bermain judi online.

“Uang hasil judi itu seperti uang setan dimakan iblis, habis enggak ada hasilnya,” kata N kepada Liputan6.com.

Hidup N pernah berantakan gara-gara judi online. Saat itu ia masih duduk di bangku kuliah. Barang-barangnya habis terjual untuk modal taruhan dan melunasi utang.

N bahkan sempat beberapa kali membohongi orangtuanya demi mendapat uang kiriman tambahan. Sementara itu lilitan utang makin membuatnya tak bisa berkutik.

“Dulu sampai uang kiriman dari orang tua bulan ini, buat bayar utang bulan kemarin. Seperti itu seterusnya demi,” kata N dengan raut muka berkerut.

Menurut N, pemain judi online hanya akan berputar pada satu siklus. Ada saat kalah, ada saat menang.

Saat menang, pemain mengunakan uang hasil berjudi untuk melunasi utang-utangnya akibat kalah taruhan.

Setidaknya siklus itu sudah N rasakan selama 5 tahun hingga akhirnya ia menutup akun judi online-nya.

“Berhenti judi online sekitar tahun 2016. Di situ saya mikir, menang tidak, kalah iya, malu juga sama teman-teman pinjam duit,” kata N dengan kepala tertunduk.

Sumber: Liputan6.com