Keutamaan Memelihara Anak Yatim Menurut Ajaran Rasulullah

Keutamaan Memelihara Anak Yatim Menurut Ajaran Rasulullah

Arti dari kalimat memelihara anak yatim ialah sebagai pengurus, maka kita mengurusi dan memperhatikan semua keperluan hidup si anak yatim tersebut. Kita wajib memenuhi semuanya. Adapaun keperluan hidup yang dimaksud adalah antara lain: pakaian, nafkah (makan, minum), juga mengasuh dan mendidiknya dengan pendidikan Islam yang benar.

Memang memelihara anak yatim bukanlah amalan wajib. Dan iniberbeda dengan amalan-amalan dalam rukun islam. Tetapi, dikatakan dari beberapa sumber, bahwa memelihara anak yatim itu hukumnya fardhu kifayah.

Fardhu kifayah adalah bahwa memang harus ada yang mewakili untuk melaksanakan kewajiban tersebut yakni menanggung anak yatim. Ada beberapa keutamaan bagi mereka yang menjadi menanggung anak yatim.

Pertama, mereka yang memelihara anak yatim akan menjadi tetangga Rasulullah SAW di surga kelak.

Kedua, tindakan menanggung anak yatim, itu akan membersihkan pikiran bagi pelakunya. Dan tidak hanya itu saja, tetapi bisa melembutkan dan juga menghilangkan kekerasan hatinya.

Rasulullah Nabi Besar Muhammad SAW pernah bersabda dalam surah HR Thabrani, bahwa jika kita ingin hati menjadi lembut dan damai, serta semua keinginan yang baik tercapai, maka sayangilah anak yatim. Kemudian kita disuruh mengusap kepala mereka, dan memberi dia makanan yang seperti kita makan.

Tambah Nabi, jika kita melakukan semuanya, maka hati kita akan menjadi tenang, lembut, serta semua keinginan kita yangbaik pasti akan tercapai.

Keutamaan memelihara anak yatim ketiga, adalah menjadi penyembuh dari berbagai penyakit kejiwaan.

Keempat, kita jadi memiliki kepedulian sosial yang tinggi karena telah menolong dan membantu orang yang membutuhkan, sebab hal seperti itu memang diajarkan dalam Islam.

Cara Memelihara Anak Yatim yang Paling Ideal

Memelihara Anak Yatim
Sumber gambar: Foto: Antara/ Feny Selly

Tidak ada aturan baku atau ideal tentang cara memelihara anak yatim. Dan untuk menjawabnya, mari kita lihat kisah berikut.

Suatu hari, Zainab (istri Ibnu Mas’ud) berniat akan menemui Rasulullah SAW. Ternyata di depan pintu rumah Rasulullah, ada orang yang juga ingin menemui Nabi Muhammad SAW. Dia adalah seorang perempuan dari golongan Anshar.

Zainab pun berkata kepadanya dan memohon kepada Bilal untuk menyampaikan kepada Rasulullah SAW, bahwa di depan pintu beliau ada dua orang perempuan yang sedang menunggu dan ingin bertemu beliau.

Adapun maksud kedatangan Zainab yaitu ingin bertanya kepada Rasulullah tentang sedekah kepada suami dan santunan anak yatim. Zainab ingin tahu apakah mereka itu akan mendapat balasan pahala dengan memelihara anak yatim?

Bilal pun masuk kemudian menyampaikan pertanyaan Zainab tersebut kepada Rasulullah. Rasulullah Nabi Muhammad SAW bertanya, “Siapa mereka berdua?”

Bilal menjawab, “Mereka adalah seorang wanita Anshar dan Zainab.”

Nabi SAW bertanya, “Zainab yang mana?”

Jawab Bilal, “Zainab istri Abdullah (Ibnu Mas’ud).”

Kemudian, Rasulullah Nabi besar Muhammad bersabda “Mereka berdua baik Zainab maupun perempuan itu mendapatkan dua pahala, yakni pahala menjaga kekerabatan, dan satunya lagi adalah pahala sedekah” (HR Bukhari dan Muslim).

Dari keterangan di atas dapat kita ketahui bersama bahwa, hakikatnya memelihara anak yatim itu adalah dengan membawa anak yatim ke dalam keluarga kita.

Sebagai keluarga Muslimin, kita bisa mencukupi kebutuhannya, mengajarinya, dan mendidiknya sampai si anak yatim ini akil balig.

Keluarga penjamin anak yatim harus memperlakukan anak yatim ini seperti keluarganya sendiri, baik dalam hal sandang, pangan, dan pendidikan. Itulah yang dilakukan para sahabat nabi, cara memelihara anak yatim yang baik, sebagaimana dilukiskan dalam hadis di atas.

Mungkin Anda tertarik: Pentingnya Pendidikan Di Indonesia Untuk Pembangunan Bangsa Di Masa Depan