Tahap Pembangunan Jalan Beton di Kawasan Tropis

Tahap Pembangunan Jalan Beton di Kawasan Tropis

Tahap pembangunan jalan beton memiliki beberapa tahapan. Pada masa sekarang, kebutuhan akan pembangunan jalan  menjadi salah satu hal yang diprioritaskan, termasuk pembangunan jalan beton. Penggunaan jalan beton terutama pada area yang lebar adalah pilihan populer konstruksi jalan terbaik saat ini. 

Pertimbangannya tentu didukung dengan daya topangnya yang lebih handal untuk menghadapi kendaraan berat, banjir dan penggunaan sehari-hari. Hal ini sangat cocok dengan kondisi Indonesia yang memiliki iklim tropis. 

Apa saja tahap pembangunan jalan beton di wilayah ini?

Perataan Jalan sebagai Tahap Persiapan

Hal pertama yang dilakukan dalam melalui tahap pembangunan jalan beton tentu saja persiapan. Persiapan ini meliputi perataan jalan dan membersihkannya dari berbagai penghalang. Penghalang yang dimaksud bisa berupa bongkahan batu maupun tumbuhan.

Pembangunan Pondasi Dasar

Tahap selanjutnya dalam proses pembangunan jalan ini adalah dengan membangun pondasi dasar beton. Pondasi ini bisa berupa lapisan tanah urugan menggunakan batu dengan ketebalan sekitar 30 cm. 

Lapisan ini bisa terdiri dari pecahan batu lebih kecil dari batu untuk pondasi rumahan. Selanjutnya diberikan lapisan sirdam dengan ketebalan yang sama. Lapisan campuran batu kerikil dan pasir ini dapat mengisi celah batu di lapisan makadam jadi tertutup rapat. Kemudian padatkan.

Landasan Cor Beton

Tahap ketiga dari proses ini adalah dengan membangun landasan cor beton. Jika lapisan pondasi dasar sudah kering dan padat, kemudian tutup dengan plastik untuk sebagai landasan cor beton.  Atau menggunakan material geotextile, dengan menggunakan jenis geotextile yang sesuai.

Penggunaannya bertujuan mencegah air dari cor beton tidak meresap ke dalam tanah dan membentuk lapisan beton yang kuat dan kokoh terpasang dengan sempurna.

Pemasangan Kerangka Beton

Setelah lapisan landasan cor beton sudah terpasang sempurna, maka langkah selanjutnya adalah memasang kerangka beton. Tahap ini dipasan beton decking untuk jadi penyangga wiremesh atau kerangka besi tulangan beton. 

Biasanya pemasangan besi beton menggunakan ukuran yang agak terbal seperti 8 mm yang dibentuk S. Tujuannya adalah agar lebih kuat kemudian diikatkan pada tulangan cor beton. Tulangan tersebut dipasang untuk memberikan batasan dan juga pengikat antara wiremesh lapisan bawah dan atas,

Proses Pengecoran Jalan Beton

Tahap berikutnya dalam pembangunan jalan beton adalah pengecoran. Pengecoran dilakukan dengan adukan beton berkualitas dengan ukuran yang sudah diperhitungkan. Lakukan proses ini ketika cuaca cerah agar bisa mengering dengan cepat. 

Kemudian, tutup hasil pengecoran menggunakan hamparan plastik atau bisa juga menggunakan karung goni di permukaan beton yang sudah dicor. Dengan demikian maka proses pengerasan dapat terbentuk dengan sempurna. 

Proses Pemadatan Beton Tahap Akhir

Tahap terakhir dalam proses pembangunan jalan beton adalah penyempurnaan. Penyempurnaan ini berupa pemadatan beton tahap akhir. Sebelum jalan dapat digunakan, pastikan terlebih dahulu betonnya cukup keras untuk dapat dilalui kendaraan. 

Gunakan air yang disiram pada jalan beton selama 23 hari berturut-turut. Hal ini dilakukan untuk menghindari dehidrasi atau kekurangan air pada lapisan beton yang baru diproses. Beton yang mengeras lambat laut akan terbukti kuat dan kokoh.

Baca juga: Daftar 10 Perusahaan Kapal Kontainer Terbesar Di Dunia

Perbandingan Beton dan Aspal

Beberapa waktu belakangan ini, material beton banyak digunakan sebagai perkuatan jalan dibandingkan aspal. Perbedaan yang cukup mencolok antara kedua jenis perkerasan ini adalah bagaimana distribusi beban disalurkan ke subgrade.

Perkerasan kaku atau beton dipilih karena mempunyai kekakuan dan stiffnes. Bahan ini akan mendistribusikan beban pada daerah yang relatif luas pada subgrade.. Beton sendiri bagian utama yang menanggung beban struktural. 

Perkerasan lentur atau aspal dibuat dgn material yang relatif kurang kaku, sehingga tidak menyebarkan beban sebaik pada beton. Hal ini membuat pembangunan memerlukan tebal yang lebih besar untuk meneruskan beban ke subgrade. 

Faktor yg dipertimbangkan dalam proyek perkerasan adalah kekuatan struktur beton, dengan alasan ini variasi kecil pada subgrade mempunyai pengaruh yang kecil pada kapasitas perkerasan menanggung beban. 

Perbedaan lain bahwa perkerasan beton menyediakan kemungkinan berbagai tektur, warna perkerasan, sehingga secara asitektur lebih baik. Pada perkerasan kaku atau aspal dengan menggunakan plat beton, bagian yang sangat menentukan kekuatan struktur perkerasan untuk menahan beban lalu lintas tentu kekuatan dari beton yang digunakan. 

Tanah dasar hanya memberikan pengaruh sangat kecil sebagai penyumbang kekuatan daya pendukung struktural dari perkerasan kaku. Lapisan pondasi bawah bisa saja digunakan pada perkerasan jalan beton namun ini dimaksudkan hanya sebagai lantai kerja serta untuk drainase guna mencegah terjadinya pumping.

Alasan lebih memilih perkerasan kaku adalah  tingkat kekakuan yang cukup tinggi dibandingkan dengan perkerasan aspal, yaitu 10 kali lipat (Ebeton semen = 40.000 MPa; Ebeton aspal = 4.000 MPa). 

Pelat beton dengan flexural strength 45 kg/cm2 (kira-kira ekivalen dengan beton mutu K-400) setebal 25 cm dapat menampung sekitar 8 juta ESAL (cukup tinggi). Tebal keseluruhan perkerasan jauh lebih tipis dari tebal keseluruhan perkerasan fleksibel/aspal (< 50%). 

Bahan dan perhitungan ini telah digunakan di Indonesia sejak tahun 1985. Dengan demikian pengalaman sudah cukup banyak, khususnya jenis “tanpa tulangan dengan sambungan (jointed unreinforced concrete pavement)”. 

Keuntungan Pembangunan Jalan dengan Beton 

Material beton dipilih dalam proses pembangunan jalan karena memiliki tahap yang mudah. Selain itu bahan ini memiliki life cycle cost lebih murah dari pada perkerasan aspal. Bahan beton tidak terlalu peka terhadap kelalaian pemeliharaan.

Bahan beton perkerasan tidak begitu terpengaruh oleh adanya genangan air (banjir). Selain itu bahan dari beton yaitu semen adalah material produksi dalam negeri sehingga tidak tergantung dari import. 

Keseluruhan tebal perkerasan jauh lebih kecil dari pada perkerasan aspal sehingga dari segi lingkungan atau environment lebih menguntungkan. Dengan berbagai pertimbangan tersebut, banyak proses pembangunan jalan yang menggunakan beton dan melalui beberapa tahap yang mudah.

Kekurangan Penggunaan Beton untuk Jalan

Meski memiliki banyak kelebihan, material ini tentu saja memiliki kekurangan. Kekurangan ini antara lain permukaan perkerasan beton semen mempunyai riding comfort yang lebih jelek dari pada perkerasan aspal. 

Hal ini menyebabkan hasil jalannya yang akan sangat terasa melelahkan untuk perjalanan jauh. Warna permukaan yang keputih-putihan menyilaukan di siang hari, dan marka jalan (putih atau kuning) tidak kelihatan secara kontras. 

Perbaikan kerusakan seringkali merupakan perbaikan keseluruhan konstruksi perkerasan sehingga akan sangat mengganggu lalu lintas. Pelapisan ulang atau overlay tidak mudah dilakukan. 

Selain itu, material ini memiliki ketidaksempurnaan hasil pekerjaan akibat kurang telitinya pelaksanaan pekerjaan di lapangan tidak mudah diperbaiki. Perbaikan permukaan yang sudah halus (polished) hanya bisa dilakukan dengan grinding machine atau pelapisan ulang dengan campuran aspal, yang kedua-duanya memerlukan biaya yang cukup mahal.

Perawatan Pembangunan Jalan Beton

Tahap yang harus diperhatikan pula dalam proses pembangunan jalan dengan beton adalah perawatan. Perawatan ini dilakukan setelah beton mencapai final setting, artinya beton telah mengeras. 

Perawatan ini dilakukan, agar proses hidrasi selanjutnya tidak mengalami gangguan. Jika hal ini terjadi, beton akan mengalami keretakan karena kehilangan air yang begitu cepat. Perawatan dilakukan minimal selama 7 (tujuh) hari dan beton berkekuatan awal tinggi minimal selama 3 (tiga) hari serta harus dipertahankan dalam kondisi lembab, kecuali dilakukan dengan perawatan yang dipercepat.

Tujuan dari perawatan ini tidak hanya dimaksudkan untuk mendapatkan kekuatan tekan beton yang tinggi tetapi juga dimaksudkan untuk memperbaiki mutu dari keawetan beton. Selain itu kekedapan terhadap air, ketahanan terhadap aus, serta stabilitas dari dimensi struktur. 

Untuk menjaga agar proses hidrasi beton dapat berlangsung dengan sempurna maka diperlukan curing untuk menjaga kelembabannya. Lamanya curing sekitar 7 hari berturut-turut mulai hari kedua setelah pengecoran. Curing dapat dilakukan dengan berbagai macam cara antara lain :

  1. Menyemprotkan dengan lapisan khusus (semacam vaseline) pada permukaan beton.
  2. Membasahi secara terus menerus permukaan beton dengan air. Setelah proses curing, di lakukan pengurugan tanah kembali lapis demi lapis.

Demikian tadi penjelasan mengenai tahap pembangunan jalan dengan material beton beserta karakteristiknya. Semog bermanfaat!